Kegiatan Nyadran Menjadi Ikon Budaya Desa Ngadirenggo
Ciri khas dari suatu daerah salah satunya tercermin dari adat budayanya masing-masing yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya. Indonesia merupakan negara yang memiliki adat dan budaya yang beragam.
Hal itu dapat menarik daya pikat wisatawan mancanegara untuk datang ke Indonesia. Wisatawan tersebut datang untuk melihat adat budaya daerah di Indonesia yang unik. Selain itu, adat budaya sendiri telah melekat dalam kehidupan masyarakat di suatu daerah.
Seperti halnya yaitu Desa Ngadirenggo yang merupakan salah satu desa di Kabupaten Trenggalek, tepatnya berada di Kecamatan Pogalan. Desa ini memiliki adat Nyadran yang berbeda dari desa lainnya.
Kegiatan Nyadran di desa ini dilaksanakan satu tahun sekali, tepatnya hari Jumat Wage di bulan Selo dalam hitungan Jawa. Kegiatan ini dimulai pada Hari Kamis pagi pukul 04.30 atau setelah sholat Subuh dengan aktivitas membaca Al Qur'an menggunakan pengeras suara di semua masjid dan mushola yang berada di Desa Ngadirenggo. Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan acara doa' bersama yang dilaksanakan di Balai Desa Ngadirenggo untuk mendoakan tiga tokoh yang dianggap sebagai sesepuh Desa Ngadirenggo yaitu Syeh Dombo, Syeh Bodho, dan Syeh Cokrosuto.
Kegiatan ini dilaksanakan mulai dari pembacaan Al Qur'an secara massal dan doa' bersama seluruh warga Desa Ngadirenggo di puncak Gunung Kebo tepatnya di area pemakaman Syeh Dumbo. Selain itu, dilaksanakan pagelaran wayang kulit selama satu malam di Balai Desa Ngadirenggo, kemudian kegiatan "Pawai Budaya Bersih Desa Ngadirenggo" yang diikuti seluruh warga desa.
Dalam seluruh kegiatan tersebut, "Apem Dumbo" masih menjadi makanan favorit yang dinantikan masyarakat desa lain. Makanan yang terbuat dari tepung beras dengan kuah dari gula merah yang dicairkan tersebut, diberikan secara gratis oleh masyarakat Desa Ngadirenggo.
Dengan diadakan kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME dan alam sekitar yang harus kita jaga, serta adat budaya yang harus kita lestarikan agar tidak hilang pada tahun yang akan datang nantinya.
Artikel ini ditulis berdasarkankan https://pingkanhendrayana.blogspot.com/2020/07/nilai-kemanusiaan-di-balik-ritual-adat.html?m=1